Dalam lanskap media sosial yang dinamis, terminologi bahasa terus berkembang dengan sangat cepat. Salah satu istilah yang paling sering muncul dalam percakapan daring, kolom komentar, maupun cuitan di platform seperti X (Twitter) atau Instagram adalah "throwing shade" atau sekadar "shade". Memahami istilah ini sangat penting agar kita tidak salah kaprah dalam menangkap maksud pesan seseorang di dunia maya.
Secara harfiah dalam bahasa Inggris, shade berarti bayangan. Namun, dalam konteks slang internet, shade merujuk pada tindakan menyindir, meremehkan, atau memberikan kritik secara halus, tidak langsung, dan sering kali sarkastik kepada seseorang atau sesuatu. Tidak seperti penghinaan terbuka atau konfrontasi langsung, throwing shade dilakukan dengan cara yang lebih terselubung.
Pelaku shade biasanya tidak menyebut nama secara eksplisit atau tidak melakukan serangan frontal. Sebaliknya, mereka menggunakan kata-kata yang tampak biasa atau pujian palsu, namun sebenarnya memiliki niat untuk mempermalukan atau mengkritik sasaran di balik layar.
Inti dari shade adalah ketidakterusterangan. Seseorang dianggap melakukan shade ketika ia menyampaikan pesan yang membuat orang lain merasa tersindir, meskipun jika dikonfrontasi, pelaku dapat dengan mudah menyangkalnya dengan alasan "hanya bercanda" atau "tidak bermaksud apa-apa."
Istilah ini berakar dari budaya drag ball di komunitas LGBTQ+ di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, yang kemudian dipopulerkan oleh film dokumenter Paris Is Burning (1990). Dalam budaya tersebut, shade adalah bentuk seni "melempar sindiran" yang cerdas dan tajam. Seiring dengan perkembangan internet, istilah ini diserap ke dalam bahasa gaul arus utama dan digunakan secara global oleh berbagai kalangan di media sosial.
Ada beberapa alasan mengapa seseorang lebih memilih untuk melakukan shade dibandingkan memberikan kritik secara terbuka:
Di internet, shade bisa berbentuk cuitan yang sangat spesifik tentang perilaku seseorang tanpa menyebut akunnya, atau komentar di foto yang tampak seperti pujian tetapi sebenarnya bersifat menjatuhkan. Contohnya, seseorang mengunggah foto baju baru, lalu ada yang berkomentar, "Wah, keberanianmu memakai baju itu patut diacungi jempol." Kalimat tersebut terdengar seperti pujian, namun sebenarnya mengandung shade karena menyiratkan bahwa baju tersebut terlihat buruk atau aneh.
Walaupun shade adalah bagian dari budaya internet yang umum, penting untuk diingat bahwa pesan ini tetap bisa menyakiti perasaan orang lain. Terkadang, shade yang dilakukan berlebihan atau ditujukan kepada seseorang secara terus-menerus bisa berubah menjadi bentuk perundungan siber (cyberbullying).
Sebagai pengguna internet yang bijak, memahami kapan harus menggunakan humor atau sindiran dan kapan harus bersikap jujur secara terbuka adalah kunci komunikasi yang sehat. Mengetahui perbedaan antara kritik yang membangun dan shade yang menjatuhkan akan membantu kita menjaga interaksi digital tetap positif dan minim konflik yang tidak perlu.