Di era digital yang serba cepat, istilah-istilah baru sering kali bermunculan di media sosial untuk menggambarkan fenomena psikologis masyarakat modern. Salah satu istilah yang kini semakin populer adalah JOMO. Jika sebelumnya kita sering mendengar tentang FOMO (Fear of Missing Out), kini dunia mulai melirik sisi sebaliknya yang jauh lebih menenangkan, yaitu JOMO atau Joy of Missing Out.
JOMO merupakan singkatan dari Joy of Missing Out. Secara harfiah, istilah ini dapat diartikan sebagai "kegembiraan karena melewatkan sesuatu". Jika FOMO adalah perasaan cemas karena merasa tertinggal dari tren atau aktivitas sosial orang lain, JOMO justru adalah bentuk penerimaan diri yang damai untuk tidak terlibat dalam segala hal yang terjadi di dunia maya maupun nyata.
Banyak orang merasa lelah dengan tuntutan media sosial. Paparan terus-menerus terhadap kehidupan orang lain yang tampak "sempurna" dapat memicu stres, kecemasan, dan rasa kurang percaya diri. JOMO hadir sebagai reaksi dari kelelahan digital tersebut. Tren ini menekankan pada pentingnya menetapkan batasan diri (boundaries) agar kita bisa fokus pada kualitas hidup yang nyata, bukan sekadar eksistensi di dunia maya.
Mengadopsi pola pikir JOMO membawa dampak positif bagi kesehatan mental, di antaranya:
Menerapkan JOMO tidak berarti Anda harus mengasingkan diri dari dunia. Ini adalah tentang pilihan sadar. Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang bisa Anda coba:
Mulailah dengan mengatur batasan waktu penggunaan aplikasi media sosial di ponsel Anda. Jangan merasa bersalah jika Anda melewatkan sebuah tren atau diskusi yang sedang viral. Dunia akan tetap berjalan baik-baik saja meski Anda tidak ikut berkomentar.
Nikmati momen saat ini. Jika Anda sedang membaca buku, minumlah kopi Anda dengan tenang tanpa mengecek ponsel. Kehadiran penuh dalam satu aktivitas adalah kunci utama dalam merasakan JOMO.
Ingatlah bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang yang telah dikurasi. Jangan jadikan standar orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan Anda sendiri.
Terkadang kita merasa harus hadir di setiap acara sosial karena takut dianggap tidak setia kawan atau dianggap membosankan. JOMO mengajarkan kita bahwa mengatakan "tidak" untuk aktivitas yang menguras energi adalah cara kita menghargai kesehatan mental sendiri.
JOMO bukan tentang menjadi anti-sosial. Sebaliknya, ini adalah tentang menjadi lebih selektif terhadap apa yang kita izinkan masuk ke dalam ruang pikiran kita. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu "terhubung", JOMO adalah pengingat bahwa terkadang, tidak melakukan apa-apa atau melewatkan sesuatu justru bisa menjadi bentuk perawatan diri terbaik yang bisa kita berikan kepada diri sendiri.