Arti Doomscrolling Yang Sering Dialami Netizen

2026-06-01 01:55:03 - Admin

<style> body { font-family: 'Segoe UI', Tahoma, Geneva, Verdana, sans-serif; line-height: 1.6; color: #333; max-width: 800px; margin: 0 auto; padding: 20px; background-color: #fdfdfd; } header { text-align: center; padding: 20px 0; border-bottom: 2px solid #eee; margin-bottom: 30px; } h1 { color: #2c3e50; } h2 { color: #34495e; margin-top: 30px; } p { margin-bottom: 15px; } .highlight { background-color: #e8f4fd; padding: 15px; border-left: 5px solid #3498db; } </style> <header> <h1>Arti Doomscrolling yang Sering Dialami Netizen</h1> </header> <main> <p>Di era digital saat ini, interaksi kita dengan perangkat seluler telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan akses informasi, muncul sebuah fenomena perilaku yang sering dilakukan netizen tanpa disadari, yaitu <em>doomscrolling</em>. Apa sebenarnya fenomena ini dan mengapa hal tersebut bisa berdampak pada kesehatan mental kita?</p> <h2>Apa Itu Doomscrolling?</h2> <p><em>Doomscrolling</em>, atau terkadang disebut <em>doomsurfing</em>, adalah tindakan terus-menerus menelusuri konten berita atau media sosial yang negatif, meskipun konten tersebut membuat kita merasa cemas, sedih, atau stres. Istilah ini berasal dari kata <em>doom</em> (kehancuran/nasib buruk) dan <em>scrolling</em> (kegiatan menggulir layar ponsel).</p> <p>Seseorang yang melakukan <em>doomscrolling</em> terjebak dalam siklus di mana mereka merasa perlu untuk terus membaca berita buruk. Meskipun tahu bahwa informasi tersebut merusak suasana hati, ada dorongan bawah sadar untuk tetap mencari tahu apa yang terjadi di luar sana.</p> <div class="highlight"> <p><strong>Mengapa Kita Melakukannya?</strong> Fenomena ini sebenarnya berkaitan dengan insting bertahan hidup manusia. Otak kita diprogram untuk selalu waspada terhadap potensi bahaya. Di masa lalu, mengetahui adanya ancaman membantu kita selamat. Namun, di era informasi 24 jam, otak kita seringkali kewalahan karena dipaksa memproses ribuan "bahaya" setiap harinya melalui layar ponsel.</p> </div> <h2>Tanda-tanda Seseorang Sedang Doomscrolling</h2> <p>Banyak dari kita mungkin tidak menyadari bahwa kita sedang terjebak dalam perilaku ini. Berikut adalah beberapa indikator umum:</p> <ul> <li>Menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir layar ponsel tanpa tujuan yang jelas.</li> <li>Merasa gelisah, cemas, atau sulit tidur setelah melihat berita atau media sosial.</li> <li>Tetap membaca konten negatif meski sudah merasa lelah secara emosional.</li> <li>Mengabaikan tanggung jawab atau waktu istirahat demi terus memantau kabar terbaru.</li> </ul> <h2>Dampak Terhadap Kesehatan Mental</h2> <p>Melakukan <em>doomscrolling</em> secara berlebihan dapat membawa dampak serius. Paparan terus-menerus terhadap konten negatif meningkatkan hormon kortisol, yang merupakan hormon stres. Akibatnya, seseorang bisa mengalami peningkatan kecemasan, gangguan pola tidur, hingga rasa pesimis yang mendalam terhadap masa depan.</p> <p>Selain itu, fenomena ini juga menyita waktu produktif. Energi yang seharusnya digunakan untuk kegiatan kreatif atau bersosialisasi secara langsung justru habis terkuras oleh emosi negatif dari apa yang disajikan oleh algoritma media sosial.</p> <h2>Cara Mengatasi Kebiasaan Doomscrolling</h2> <p>Menyadari bahwa Anda sedang melakukan <em>doomscrolling</em> adalah langkah pertama menuju perubahan. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk menguranginya:</p> <ul> <li><strong>Tetapkan Batas Waktu:</strong> Gunakan fitur <em>digital wellbeing</em> di ponsel Anda untuk membatasi durasi penggunaan aplikasi media sosial atau berita.</li> <li><strong>Jadwalkan Waktu Khusus:</strong> Jika Anda ingin tetap terinformasi, tentukan waktu tertentu untuk membaca berita, misalnya hanya 15 menit di pagi hari. Hindari membaca berita sesaat sebelum tidur.</li> <li><strong>Kurasi Konten:</strong> Berhentilah mengikuti akun-akun yang hanya menyebarkan konten provokatif atau negatif. Isi linimasa Anda dengan konten yang inspiratif, mendidik, atau sekadar menghibur.</li> <li><strong>Lakukan Aktivitas Fisik:</strong> Saat dorongan untuk menggulir layar muncul, cobalah untuk melakukan kegiatan fisik seperti peregangan, berjalan santai, atau mengerjakan hobi yang tidak melibatkan perangkat elektronik.</li> </ul> <p>Sebagai penutup, dunia memang penuh dengan tantangan, namun membiarkan diri kita terus terpaku pada layar untuk mengonsumsi informasi negatif bukanlah cara terbaik untuk menghadapinya. Menjaga kewarasan dengan membatasi konsumsi informasi digital adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap diri sendiri di tengah arus informasi yang tak terbendung.</p> </main>

Lebih banyak