Dalam era kencan modern yang didominasi oleh aplikasi dan media sosial, muncul banyak istilah baru untuk mendeskripsikan perilaku dalam hubungan. Salah satu istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami adalah cushioning. Secara umum, cushioning merujuk pada perilaku seseorang yang tetap menjaga hubungan dengan orang lain (selain pasangan utamanya) sebagai "bantalan" atau jaring pengaman jika hubungan utamanya berakhir.
Secara harfiah, cushioning berarti memberikan bantalan. Dalam konteks kencan, ini adalah tindakan di mana seseorang sengaja memelihara koneksi dengan beberapa kandidat cadangan. Orang yang melakukan ini tidak berniat untuk benar-benar serius dengan kandidat cadangan tersebut saat ini, tetapi mereka ingin memastikan bahwa jika hubungan mereka dengan pasangannya saat ini kandas, mereka tidak akan merasa kesepian atau memulai proses kencan dari nol.
Perilaku ini sering melibatkan pertukaran pesan, interaksi di media sosial, atau sesekali bertemu untuk menjaga agar minat orang tersebut tetap ada. Ini adalah bentuk ketidakamanan emosional yang dimanifestasikan ke dalam strategi kencan yang kalkulatif.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa seseorang merasa perlu melakukan cushioning. Pertama adalah rasa takut akan penolakan atau rasa takut sendirian. Bagi sebagian orang, berada dalam hubungan adalah sumber validasi diri. Ketika hubungan tersebut terasa goyah atau tidak memberikan kepuasan maksimal, mereka mencari "bantalan" untuk menutupi kecemasan akan masa depan.
Alasan kedua adalah kurangnya rasa percaya diri. Seseorang mungkin merasa bahwa dirinya tidak akan bisa mendapatkan pasangan baru dengan cepat jika putus, sehingga mereka "mengamankan" stok pasangan sejak dini. Terakhir, ini bisa dipicu oleh ketidakpuasan dalam hubungan utama. Alih-alih berkomunikasi untuk memperbaiki hubungan atau memilih untuk putus, pelaku cushioning memilih jalan pintas untuk mencari pelarian yang sudah siap sedia.
Cushioning adalah perilaku yang tidak sehat dalam sebuah hubungan. Dampak utamanya adalah pengikisan kepercayaan. Jika pasangan utama mengetahui hal ini, fondasi kepercayaan yang sudah dibangun bisa runtuh seketika. Hubungan yang sehat membutuhkan komitmen penuh dan transparansi, sementara cushioning didasarkan pada ketidakjujuran terselubung.
Bagi pelaku, cushioning juga merugikan. Mereka tidak pernah benar-benar belajar untuk menghadapi masalah dalam hubungan atau belajar untuk berdamai dengan kesendirian. Mereka terus-menerus hidup dalam kekhawatiran dan membagi energi emosional mereka, sehingga tidak bisa memberikan 100 persen kapasitas diri untuk pasangan yang sebenarnya mereka pilih.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi pasangan yang sering memberikan jawaban ambigu tentang status hubungan, sering terlihat aktif di aplikasi kencan meski sudah berpasangan, atau adanya "teman" yang terus-menerus muncul dan berperilaku seolah mereka lebih dari sekadar teman. Jika pasangan Anda tampak tidak pernah berkomitmen penuh dan selalu memiliki "rencana cadangan" secara emosional, ada kemungkinan Anda sedang dijadikan target cushioning.
Kencan yang sehat harus didasarkan pada kejujuran, rasa hormat, dan komitmen. Cushioning hanyalah cerminan dari ketidakdewasaan emosional. Jika seseorang merasa perlu memiliki cadangan, berarti mereka belum siap untuk menjalani hubungan yang tulus. Penting untuk selalu berkomunikasi secara terbuka mengenai ekspektasi dalam hubungan agar tidak ada pihak yang merasa dimanfaatkan sebagai jaring pengaman bagi ketidakamanan orang lain.