Belakangan ini, linimasa TikTok diramaikan oleh istilah "Aura". Anda mungkin sering melihat komentar seperti "Aura-nya terpancar" atau "Aura-nya negatif" di bawah video influencer atau tokoh publik. Namun, apa sebenarnya maksud dari tren ini?
Secara tradisional, aura sering dikaitkan dengan energi spiritual atau medan elektromagnetik yang mengelilingi makhluk hidup. Namun, dalam konteks media sosial saat ini, "aura" telah mengalami pergeseran makna menjadi sebuah bahasa gaul (slang) yang merujuk pada karisma, wibawa, atau kesan pertama yang dipancarkan oleh seseorang.
Di TikTok, aura bukan lagi soal hal mistis, melainkan tentang bagaimana seseorang membawa dirinya. Seseorang yang dikatakan memiliki "aura positif" biasanya merujuk pada mereka yang terlihat percaya diri, keren, elegan, atau memiliki pembawaan yang menarik perhatian tanpa harus berusaha keras.
Tren ini meledak karena sifatnya yang subjektif dan mudah digunakan sebagai bahan candaan. Pengguna TikTok menggunakan istilah ini untuk mengomentari perilaku seseorang yang dianggap sangat keren atau justru sangat memalukan.
Viralnya istilah ini juga dipicu oleh fenomena "Aura Points". Ini adalah sistem poin imajiner yang dibuat oleh komunitas untuk menentukan apakah sebuah tindakan akan menambah atau mengurangi "skor keren" seseorang. Misalnya:
Dalam budaya TikTok, penilaian aura sangat dipengaruhi oleh persepsi visual dan perilaku. Seseorang dianggap memiliki "aura tinggi" jika mereka tampak autentik. Keaslian (autentisitas) menjadi kunci utama. Jika seseorang tampak mencoba terlalu keras untuk terlihat keren, pengguna TikTok justru akan menyebutnya sebagai "kehilangan aura" atau "minus aura".
Selain itu, konsep ini juga sering digunakan sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh idola. Fans akan mengatakan bahwa idola mereka memiliki "aura mahal" atau "aura bintang" untuk menggambarkan kualitas tak terdefinisikan yang membuat sang idola menonjol dibandingkan orang lain.
Aura yang viral di TikTok adalah cara generasi sekarang untuk mengukur karisma dan kualitas diri seseorang dengan cara yang ringan dan jenaka. Meskipun terdengar sangat subjektif, tren ini mencerminkan bagaimana masyarakat digital saat ini sangat memperhatikan aspek "pencitraan diri" dan bagaimana kesan tersebut diterima oleh orang lain di ruang publik virtual.
Pada akhirnya, "aura" hanyalah istilah baru untuk menggambarkan sesuatu yang sudah ada sejak lama: daya tarik seseorang. Entah itu positif atau negatif, fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya bahasa dan tren di internet berkembang dan beradaptasi dengan budaya populer.